
Cinta…
Sebuah kata yang tak pernah habis-habisnya untuk dibicarakan. Tema-tema cinta begitu universal. Cinta, sebuah anugerah dari Tuhan yang menyebabkan dunia ini penuh dengan kedamaian, tetapi karena cinta jugalah dunia menjadi penuh dengan permusuhan. Cinta menyebabkan manusia hidup dalam kemuliaan, tapi atas nama cinta yang salah juga, manusia dapat terjerumus dalam lembah kenistaan.
Sejatinya cinta adalah gabungan antara rasa harap dan cemas. Ketika dua rasa itu berbaur menjadi satu, rasa cinta di dalam dada semakin menggelora. Cinta dalam konteks yang dibicarakan disini tidak hanya sebatas cinta pada lawan jenis, namun juga melingkupi pengertian cinta secara lebih luas dan mulia yaitu Cinta kepada Tuhan Semesta Alam penguasa bumi dan surga.
Cinta kepada Tuhan, adalah rasa harap dan cemas apakah kita mampu untuk menjadi hamba yang hidup sesuai dengan tuntunanNya. Cinta yang paling mulia adalah cinta yang hanya mengabdi tanpa mengharap balasan, imbalan dan syarat apapun dari apa yang kita Cintai. Ungkapan dari Rabi’atul Adawiyah yang cukup terkenal, menunjukkan kepada kita betapa cintanya beliau kepada Allah sang Khalik.
Tuhanku…jika laku ibadahku
Hanya untuk menjauhkan diriku daripada api neraka-Mu,
Maka kelak bakarlah aku dengan api neraka-Mu.
Jika sembahanku hanya untuk meraih syurga-Mu,
Maka haramkan syurga-Mu bagi diriku.
Adapun apabila ibadahku hanya ingin beroleh kasih sayang-Mu,
Berilah aku kurnia-Mu yang besar.
Kurniakanlah kepadaku agar dapat melihat wajah-Mu
Wahai Yang Maha Perkasa dan Maha Mulia.
Cinta membutuhkan suatu pengorbanan. Tuhan akan memiliki rasa cemburu terhadap hamba-hambaNya yang memiliki cinta yang tinggi kepada-Nya. Tuhan akan senantiasa memberikan godaan-godaan bagi hambanya yang tulus untuk hidup dalam koridor-koridor yang telah digariskannya. Godaan-godaan tersebut ditujukan untuk menguji kecintaan seorang hamba terhadap-Nya. Kelelahan akan segera terjadi ketika kita menerjemahkan berbagai ‘godaan-godaan’ yang diberikan Tuhan sebagai suatu hal yang menyakitkan. Perjalanan menuju cinta yang mulia kepada Tuhan Semesta Alam bukanlah perjalanan yang lurus dan mudah. Memahami ‘godaan-godaan’ yang diberikan Tuhan sebagai bagian dari kecintaannya terhadap kita bukanlah suatu hal yang mudah. Tetapi yakinlah, ‘godaan-godaan’ Tuhan sesungguhnya hanya ditujukan untuk membuat cinta kita semakin kuat kepada-Nya.
Seringkali kita membebani pemikiran kita dengan hal-hal yang terjadi saat ini, tanpa kita sadar bahwa apa yang kita alami saat ini adalah sebagai satu cara dari Tuhan yang mencintai kita untuk menjadi lebih baik dan benar serta mendapatkan hasil yang baik dan benar pula.
Kehidupan manusia sejatinya telah digariskan Oleh Tuhan. Ketika hamba yang dicintainya berjalan tidak sesuai dengan apa yang telah digariskan itu, Tuhan akan memberikan kita sebuah rintangan agar kita kembali ke jalan yang benar. Atau mungkin saja rintangan itu diberikan sebagai cara agar kita dapat melintas dengan lebih cepat kepada tujuan kebaikan yang telah digariskan oleh Tuhan kepada kita.
Suatu hal yang wajar dan manusiawi ketika kita sebagai manusia mengalami rintangan dan hambatan dalam hidup, saat itu juga seringkali kita mengeluh, mencaci atau menyesali keadaan. Namun demikian kita harus tetap sadar, ada rahasia Tuhan yang mungkin tidak kita ketahui saat ini, tetapi cepat atau lambat di masa yang akan datang, kita akan mengetahui dengan jelas. Segala kesakitan, kepayahan, kesedihan yang kita alami saat ini mungkin akan menjadi suatu kenangan yang indah bagi kita di masa yang akan datang. Barangkali kita juga akan sangat bersyukur dengan rintangan yang kita hadapi tersebut.
Percayalah, rasa cinta Tuhan terhadap makhluknya melebihi rasa cinta dari seorang Ibu dan anaknya. Cinta Tuhan kepada makhluknya adalah cinta yang teramat mulia. Ruh yang ada dalam diri kita ini adalah ruh yang ditiupkan ilahi dengan penuh kecintaan. Oleh karana itu bagaimana mungkin Tuhan tidak mencintai ciptaan-Nya sendiri. Kita sebagai ciptaan dari Sang Pencinta lah yang mungkin perlu introspeksi diri apakah kita telah mencintai Tuhan dengan semestinya.
--Ilham Musazi--

Comments :
0 komentar to “Hakikat Cinta”
Posting Komentar